JURNAL YUOKY

Beranda » Kisah Inspirasi » Arti Sebuah Janji

Arti Sebuah Janji

Sepenggal kisah di daerah timur sana, yang begitu nyata, bagaimana suatu JANJI benar-benar diikat pada perkataan dan hati. Inilah ceritanya…………

 

Malam mulai surut. Kabut tebal membuat pandangan tak dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas. Tak ada api yang menyala. Semakin larut, dan tak jelas keadaannya.

 

Ketika iru, seorang pemuda terus gegabah akan suatu masalah. Pemuda dengan rambut ikal nya, berpakaian putih yang sudah kumuh dengan lumuran darah di beberapa titik bagiannya, dan tak tahu kan berkata apa dan bagaimana nasib nya dikemudian setelah ia membunuh salah satu pemuda di golongan lain. Terus berlari mencari tempat bersembunyi. Melalui kabut tebal, ia tak terlihat oleh orang-orang.

 

Setelah berlari jauh, ia menemukan suatu rumah dengan bangunannya yang sudah tua. Sepi di sekitarnya. Dan pemuda itu mencoba berlindung di rumah tua itu.

 

Dia mengetuk pintu berulang-ulang, dan seorang Kakek keluar dari rumah tersebut sembari bertanya, “Ada apa, nak? Sepertinya kau begitu gelisah. Semoga aku dapat menolongmu.” Tukas sang Kakek dengan kerendahan hatinya.

 

Pemuda itu pun mulai mengeluarkan kata demi kata secara terbata sembari beradu dengan nafasnya yang terengah-engah. “Kek. Engaku harus menolongku.” kata nya sambil memegang dada yang terus bernafas kencang.

 

“Aku akan menolongmu. Ada apa? Tenanglah sejenak dan ceritakan bagaimana keadaanmu.” kata Kakek yang lembut.

 

Kemudian Pemuda itu masuk ke rumah dan menceritakan kejadiannya.

 

“Kek. Aku baru saja membunuh seseorang dari golongan lain. Aku terus diburu oleh anggota golongannya. Dan Aku tak tahu nasib ku bagaimana. Yang Aku inginkan adalah Aku dapat bebas dari buruan golongan itu dan dapat selamat dikemudian hari.”

 

Sang Kakek pun berkata, “Aku tahu perasaanmu. Sekarang, Kau bersembunyi saja di rumah ini. Ruang kecil di bawah ranjang disana dapat dijadikan tempat bersembunyimu sementara. Aku yakin golongan itu akan datang kemari mencari Engkau.” Saran Kakek sambil menunjukkan ranjang yang kan menjadi tempat persembunyian sang Pemuda.

 

Tak lama kemudian, segerombolan orang datang dengan membawa peti berisikan jenazah seorang pemuda dan mengetuk pintu rumah itu berulang-ulang. Sang Kakek pun bergegas membuka pintu dan berkata, “Ada apa ini?”

 

Segerombolan orang itu pun berkata, “Kek. Anak Kakek telah meninggal karena dibunuh oleh seorang pemuda berambut ikal dengan pakaian putih kumuh nya. Kami sudah mencari Pemuda itu. Hingga saat ini, belum ditemui jejak nya.” Ungkap segerombolah orang itu yang ternyata mereka adalah golongan lain yang memburu Pemuda yang sedang besembunyi di rumah tersebut.

 

Sang Kakek pun berkata pada golongan itu, “Pergilah. Cari Pemuda itu di lain waktu. Aku telah ikhlas menerima Anak ku yang telah terbaring lemah di dalam peti ini.” tukas nya lembut.

 

Kemudian, golongan itu mulai pergi. Sang Kakek pun membawa peti berisikan jenazah Anak ke dalam rumah. Kakek pun mendatangi Pemuda yang bersembunyi di bawah ranjangnya.

 

“Nak. Kau telah selamat dari perburuan golongan yang kau maksud. Sekarang, cepatlah pergi dari sini sebelum mereka kembali kesini dan mencari mu.”

 

Sang Pemuda pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata, “Terima Kasih, Kek. Semoga Engkau selalu mendapatkan kebaikan.” kata Pemuda itu, dan kemudian pergi dari rumah tua seorang Kakek yang menolongnya meski Anak Kakek tersebut ternyata dibunuh oleh Pemuda itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: